Bahan Skripsi Part-2

Standard

 

 

 

 

 

 

 

Image

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A.      Kedisiplinan
    1. 1.   Pengertian Kedisiplinan

     Disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian. Kedua disiplin yang bertujuan mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, agar berprilaku tertib dan efisien.[1] Sedangkan disiplin menurut Djamarah adalah suatu tata tertib yang dapat mengatur tatanan kehidupan pridadi dan kelompok.[2]

      Sedangkan kata kedisiplinan berasal dari kata disiplin. Disiplin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bila dilihat dari segi bahasanya adalah latihan ingatan dan watak untuk menciptakan pengawasan (kontrol diri), atau kebiasaan mematuhi ketentuan dan perintah.[3] Jadi arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapa pun.[4]

Kedisiplinan mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Berkualitas atau tidaknya belajar  

siswa sangat dipengaruhi oleh faktor yang paling pokok yaitu kedisiplinan, di samping faktor lingkungan, baik keluarga, sekolah, kedisiplinan serta bakat siswa itu sendiri.

         Adapun yang dimaksud dengan kedisiplinan siswa dalam keluarga pada penelitian ini adalah keaktifan siswa dalam mengikuti peraturan yang tertadapat dalam keluarga dan kaitannya dengan prestasi belajar

 

  1. a.    Bentuk-Bentuk Kedisiplinan Belajar Siswa

                           1)  Disiplin siswa dalam menentukan dan menggunakan cara atau strategi belajar

Keberhasilan siswa dalam studinya dipengaruhi oleh cara belajarnya. Siswa yang memiliki cara belajar yang efektif memungkinkan untuk mencapai hasil atau prestasi yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak mempunyai cara belajar yang efektif.

            Untuk belajar secara efektif dan efisien diperlukan kesadaran dan disiplin tinggi setiap siswa. Belajar secara efektif dan efisien dapat dilakukan oleh siswa yang berdisiplin. Siswa yang memiliki disiplin dalam belajarnya akan berusaha mengatur dan menggunakan strategi dan cara belajar yang tepat baginya. Jadi langkah pertama yang perlu dimiliki agar dapat belajar secara efektif dan efisien adalah kesadaran atas tanggung jawab pribadi dan keyakinan bahwa belajar adalah untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain.

         Hal ini sejalan dengan pendapat Oemar Hamalik yang menyatakan belajar akan lebih berhasil apabila kita memiliki :

  1. Cara belajar yang efisien belajar,
  2. Kesadaran atas tanggung jawab

    3.   Syarat-syarat yang diperlukan.

Selain memiliki strategi belajar siswa yang tepat, siswa juga perlu memperhatikan metode atau cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dalam belajarnya. Seperti yang kita ketahui belajar bertujuan untuk mendapat pengetahuan, sikap, kecakapan dan keterampilan. Cara yang demikian itu jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan disiplin tinggi maka akan menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaan dalam belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar.

Uraian  tersebut  sejalan dengan pendapat Slameto yang mengatakan bahwa : ” kebiasan belajar mempengaruhi belajar antara lain dalam hal pembuatan jadwal belajar dan pelaksanaannya, membaca dan membuat catatan, mengulagi pelajaran konsentrasi serta dalam mengerjakan tugas”.

Demikianlah cara-cara belajar yang perlu diperhatikan oleh setiap siswa, karena dengan memiliki cara belajar yang baik akan membantu siswa dalam mencapai prestasi yang tinggi, dan cara tersebut dapat dilaksanakan dengan baik secara teratur setiap hari, apabila siswa memiliki sikap disiplin. Jadi siswa yang pada dirinya tertanam sikap disiplin akan selalu mencari dan menentukan cara belajar yang tepat baginya.

2) Disiplin terhadap pemanfaatan waktu

a)    Cara mengatur waktu belajar.

Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pelajar atau siswa adalah banyak pelajar atau siswa yang mengeluh kekuragan waktu untuk belajarnya, tetapi mereka sebenarnya kurang memiliki keteraturan dan disiplin untuk mempergunakan waktu secara efisien. Banyak waktu yang terbuang-buang disebabkan karna mengobrol omongan-omongan yang tidak habis-habisn. Sikap yang demikian itu harus ditinggalkan oleh siswa karena tidak akan bermanfaat baginya.

Keterampilan mengatur waktu merupakan suatu keterampilan yang sangat penting, bahkan ada ahli keterampilan studi yang berpendapat bahwa keterampilan mengelola waktu dan menggunakan waktu secara efisien merupakan hal yang terpenting dalam masa studi maupun seluruh kehidupan siswa.[5]

        Tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya. Dalam ajaran Islam disiplin dalam pemanfaatan waktu sangat dianjurkan, disiplin bukan hanya dalam pemanfaatan waktu belajar saja, tetapi disiplin perlu juga dilakukan oleh setiap orang dalam setiap waktu dan kesempatan.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa penggunaan atau pamanfaatan waktu dangan baik menumbuhkan disiplin dalam mempergunakan waktu secara efisien.

 

 

 

 

 

 

 

b)    Pengelompokan waktu.

Banyak siswa yang belajarnya kurang dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya karena tidak membagi-bagi waktunya untuk macam-macam keperluan, oleh karena itu, berbagai segi dan teknik untuk mengatur pemakaian waktu perlu dipahami sebagai langkah untuk mengembangkan keterampilan mengelola waktu studi.

 

Beberapa pedomanpokok yang perlu dipahami dan kemudian diterpkan oleh siswa adalah sebagai berikut :

 

  1. Kelompokkanlah waktu sehari-hari untuk keperluan studi, makan, mandi, olah raga, dan urusan-urusan pribadi atau sosial
  2. Selidiki dan tentukanlah waktu yang tersedia untuk studisetiap hari.
  3. Setelah mengetahui waktu yang tersedia, setiap siswa handaknya merencanakan penggunaan waktu itu dengan jalan menetapkan macam-macam mata pelajaran berikut urutan-urutannya yang harus dipelajari setiap hari.
  4. Setiap siswa perlu menyelidiki bilamana dirinya dapat belajar dengan hasil yang baik.
  5. Mata-mata pelajaran yang akan dipalajari diurutkan dari  yang tersukar sampai yang termudah.
  6. Siswa hendaknya membiasakan diri untuk seketika mulai mengerjakan tugas-tugas yang berkorelasi dengan studi.
  7. Berkaitan dengan pengembagan kesadaran waktu, setiap siswa hendaknya menyadari ke mana berlalunya dan untuk apa waktu 24 jam sehari (atau 168 jam seminggu, 720 jam sebulan, 8760 setahun) yang dimilikinya.[6]

 

Adapun juga cara yang lain yang lebih sederhana mengenai pengelompokan waktu, menurut Slameto adalah dengan menggunakan dasar, harian yang terdiri dari 24 jam dengan perincian sebagai berikut :

  1. Makan, Mandi, Olah raga      : + 3 Jam / hari
  2. Kegiatan Pribadi                     : + 2 Jam / hari
  3. Belajar                                      : +  11 Jam / hari
  4. Tidur                                         : +  8 Jam / hari.

Cara – cara dalam pengelompokan waktu tersebut sangat bermanfaat bagi siswa dalam menentukan kegiatan setiap hari sehingga tidak banyak waktu yang terbuang percuma .

 

c)    Penjatahan waktu belajar.

Setiap siswa perlu mengadakan prinsip belajar secara taratur dan untuk belajar secara teratur setiap hari harus mempunyai rencana kerja. Hal itu dilakukan agar siswa tidak banyak membuang waktu untuk memikirkan mata pelajaran yang akan dipelajari suatu saat dan apa yang harus dikerjakannya. Oleh karena itu agar siswa tidak dihinggapi keraguan-keraguan terhadap apa yang hendak dipelajarinya maka ia harus punya rencana kerja atau daftar waktu dalam belajar.

Adapun cara untuk membuat jadwal yang baik adalah sebagai berikut :

  1. Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperluan-keperluan tidur, belajar, makan, mandi, olah raga dan lain-lain.
  2. Menyelidiki dan menentukan waktu-waktu yang tersedia setiap hari.
  3. Merencanakan peggunaan belajar itu dengan cara menetapkan jenis-jenis mata pelajaran dan urutan-urutan yang harus dipelajari.
  4. Menyelidiki waktu-waktu mana yang dapat dipergunakan untuk belajar dengan hasil terbaik.
  5. Berhematlah dengan waktu, setiap siwa janganlah ragu untuk memulai pekerjaan, termasuk juga belajar.[7]

Adapun penjatahan waktu belajar siswa dapat dilakukan dengan membuat rencana belajar dalam bentuk jadwal belajar. Baik itu berupa jadwal belajar mingguan, harian, atuapun bulanan, dengan menentukan jumlah mata pelajaran yang akan dipelajarinya setiap hari serta menetapkan jadwalnya. Setiap siswa perlu mengetahui sendiri pelajaran yang sulit ataupun mudah, sehingga dirinya dapat menentukan waktu yang sesuai atau cukup untuk mempelajarinya.

 

        Sejalan dengan hal tersebut, rencana belajar yang baik mempunyai manfaat atau faedah. Adapun manfaat atau faedahnya antara lain :

 

  1. Menjadi pedoman dan penuntun dalam belajar, sehingga perbuatan belajar menjadi lebih teratur dan lebih sistematis.
  2. Menjadi pendorong dalam belajar.
  3. Menjadi alat bantu dalam belajar.
  4. Rencana belajar yang baik akan membantu untuk mengontrol, menilai, memeriksa sampai di mana tujuan itu tercapai.[8]

d)    Disiplin terhadap tugas.

(1)    Mengerjakan tugas rumah

Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan. Sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa: ”Mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ulangan atau ujian yang diberikan guru, tetapi juga termasuk membuat atau mengerjakan latihan-latihan yang ada dalam buku ataupun soal-soal buatan sendiri”.[9]

 

(2)    Disiplin terhadap tata tertib.

Di dalam proses balajar mengajar, disiplin terhadap tata tertib sangat penting untuk diterapkan, karena dalam suatu sekolah tidak memiliki tata tertib maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana.

        Antara peraturan dan dan tata tertib merupakan suatu perturan dan tata tertib merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sebagai alat pembentukan disiplin siswa untuk menaati perturan di dalam kelas maupun di luar kelas. Arikunto juga berpendapat “ Peraturan tata tertib merupakan salah sesuatu untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa “ .[10]

 

        Dengan demikian untuk terciptanya kondisi yang baik dan terciptanya kedisiplinan dari siswa dalam rangka pelaksanaan peraturan dan tata tertib dengan baik, maka di dalam lingkungan sekolah perlu menetapkan sikap kedisiplinan terhadap siswa, agar tercipta proses belajar mengajar yang baik.

 

  1. B.     Pengertian Hasil Belajar

 

Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar.[11]

Adapun Soedijarto menyatakan bahwa hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan.[12]

Pada umumnya hasil belajar akan memberikan pengaruh.

Penilaian hasil belajar juga bertujuan untuk mengetahui hasil belajar untuk pembentukan kompetensi siswa. Standar nasional pendidikan mengungkapkan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik atau guru dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk penilaian harian, penilaian tengah semester, dan penilaian kenaikan kelas. Jadi  hasil belajar adalah pada hakikanya merupakan  suatu kegiatan untuk mengukur perubahan perilaku yang terlah terjadi pada diri seorang siswa.

 

 

  1. C.    Pengertian Siswa

 

Dilihat dari kedudukannya siswa adalah oorang yang sedang berada dalam proseses pertumbuhan dan perkembangan menurut fitrahnya masing – masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titk optimal kemampuan fitrahnya.[13]

Sebagai manusia, anak didik memiliki karakteristik. Menurut Sutari Imam Barnabib, Swarno, dan Siti Mechati, anak didik memiliki karatkteristik tertentu yaitu :

  1. Belum memiliki pribadi dewasa menjadi tanggung jawab  pendidik ( guru ).
  2. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya , sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
  3. Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara terpadu.
  4. Anak didik dalam interaksi edukatif. Suatu pendekatan teoritis psikologis.[14]

 

 

 

Berdasarkan pengertian di atas, maka  siswa ( murid ) dapat disimpulkan adalah seseorang yang tengah memerlukan pengetahuan atau ilmu bimbingan dan pengetahuan.

 

  1. D.    Pengertian Pendidikan Agama Islam

 

Pada hakekat Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari pada Pendidikan Nasional dalam menbentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Pendidikan agama islam menurut Drs. Usman Said adalah segala usaha untuk terbentuknya atau menentun jasmani dan rohani seseorang menurut ajaran islam.[15]

Pendapat lain suatu pendidikan dinamakan Pendidikan Agama Islam, jika pendidikan itu bertujuan membentuk individu menjadi bercorak diri berderajat tertinggi menurut ukuran Allah S.W.T dan isi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan ajaran Allah S.W.T.[16]

 

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu mata  pelajaran untuk siswa agar siswa tersebut terbina menjadi berkepribadian muslim.


[1] Kadir. Penuntun Belajar PPKN. (Bandung: Pen  Ganeca Exact,1994), h. 80

[2] Djamarah. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya: Usaha Nasional, 2002), h. 12

[3] Desi Anwar. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Surabaya: Amelia, 2003), h. 65

[4] Asy Mas’udi.  Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. (Yogyakarta: Tiga Serangkai, 2000), h. 88.

[5] The Liang Gie, Cara Belajar Yang Efisien,( Yogyakarta: Liberti Yogyakarta),hal.167

[6] Ibid, hal.170

[7] Ibid, h. 83

[8] Oemar Hamalik, Op.Cit, h. 31-32

[9] Slameto, Op.Cit, h. 87

 

 

[10] Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,  (Jakarja: Rineka Cipta,1993),h. 122

 

 

[11] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), h. 250-251

[12] Soejiarto, Satuan Pelajaran Belakang &CaraPengembangannya,Jakarta:Balai Pustaka,h.25

[13] H.M.Arifin,Ilmu pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara,hal.144

[14] Drs. Saiful Bahri, Guru Dan Anak Didik, Jakarta: Rineka Cipta,2005.hal.52

[15] Drs. Usman Said, Sumbangan Pendidikan Islam Terhadap Pembentukan kepribadian Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2005.hal.34

[16] Drs. Burlian Somad, Beberapa Persoalan Dalam Pendidikan Agama Islam,Bandung: Al Ma’rif,2000. hal.20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s