Mau Skripsi

Standard

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1   Latar belakang

Proses pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari input, proses dan output. Input merupakan peserta didik yang akan melaksanakan aktivitas belajar, proses merupakan kegiatan dari belajar mengajar sedangkan output merupakan hasil dari proses yang dilaksanakan. Dari pelaksanaan proses pendidikan tersebut diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing yang tinggi untuk menghadapi persaingan di era globalisasi dewasa ini.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu penekanan dari tujuan pendidikan, seperti yang tertuang dalam Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang tujuan Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang berbunyi:

pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Dengan adanya undang-undang tersebut, maka dari waktu ke waktu bidang pendidikan haruslah tetap menjadi prioritas dan menjadi orientasi untuk diusahakan perwujudan sarana dan prasarananya terutama untuk sekolah. Salah satu tugas pokok sekolah adalah menyiapkan siswa agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal. Seorang siswa dikatakan telah mencapai perkembangannya secara optimal apabila siswa dapat memperoleh pendidikan dan prestasi belajar yang sesuai dengan bakat, kemampuan dan minat yang dimilikinya.

Terkait dengan dunia pendidikan, untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan berprestasi tinggi maka siswa harus memiliki prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar merupakan tolok  ukur maksimal yang telah dicapai siswa setelah melakukan perbuatan belajar selama waktu yang telah ditentukan bersama.

Dalam suatu lembaga pendidikan, prestasi belajar merupakan indikator yang penting untuk mengukur keberhasilan proses belajar mengajar. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa tinggi rendahnya prestasi siswa banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain  disamping proses pengajaran itu sendiri. (Suharsimi Arikunto, 1990 : 21)

Prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi tetapi juga dipengaruhi oleh disiplin. Motivasi adalah daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu atau daya penggerak dari subyek untuk melakukan suatu perbuatan dalam suatu tujuan (Sardiman, 2000 : 71).                      

Motivasi dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang berkaitan dengan konsep-konsep yang lain seperti minat, konsep diri, sikap dan sebagainya sehingga dapat mempengaruhi siswa yang dapat membangkitkan  dan mengarahkan tingkah laku yang dimungkinkan untuk ditampilkan oleh para siswa ( Eysenck dalam Slameto, 2003 : 170 ).  

Sedangkan menurut Noehi Nasution  ( 1993 : 8 ) motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi belajar adalah adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar, sehingga hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar meningkat. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000 : 119). Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi : 

  1. mendorong  manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan,
  2. menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya,
  3. menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi  tujuan tersebut. Seseorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan akan lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.

Siswa yang mempunyai motivasi yang kuat akan diikuti dengan munculnya disiplin diri dimana disiplin tersebut merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan.

Atau pada garis besarnya motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa, pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang sesuai sesuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat, yang ada pada diri siswa.berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakan motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan kedisiplinan kelas. Motivasi merupakan bagian dari prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran karena motivasi menjadi salah satu faktor yang turut menentukan pembelajaran yang efektif. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000 : 123)

Didalam pengelolaan pengajaran, disiplin merupakan suatu masalah penting. Tanpa adanya kesadaran akan keharusan melaksanakan aturan yang sudah ditentukan sebelumnya pengajaran tidak mungkin mencapai target yang maksimal.

Seorang siswa perlu memiliki sikap disiplin dengan melakukan latihan yang memperkuat dirinya sendiri untuk selalu terbiasa patuh dan Mempertinggi daya kendali diri. Sikap disiplin yang timbul dari kesadarannya sendiri akan dapat lebih memacu dan tahan lama dibandingkan dengan sikap disiplin yang timbul karena adanya pengawasan dari orang lain.

Disiplin dapat tumbuh dan dibina melalui latihan, pendidikan atau penanaman kebiasaan yang harus dimulai sejak dalam lingkungan keluarga, mulai pada masa kanak-kanak dan terus tumbuh berkembang sehingga menjadi disiplin yang semakin kuat. Seperti halnya disebutkan oleh Tulus Tu’u (2004 : 37) bahwa dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa berhasil dalam belajarnya, tanpa disiplin yang baik suasana sekolah dan juga kelas menjadi kurang kondusif  bagi kegiatan pembelajaran secara positif displin memberi dukungan lingkungan yang tenang dan tertib bagi proses pembelajaran, disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja karena kesadaran pentingnya norma, aturan, kepatuhan dan ketaatan merupakan kesuksesan seseorang. 

Menurut  Soegeng Prijodarmito dalam Tulus Tu’u ( 2004 : 40 ) sikap, perilaku seseorang tidak dibentuk dalam sekejap. Diperlukan pembinaan, tempaan yang terus-menerus sejak dini. Melalui tempaan manusia akan menjadi kuat.

Melalui tempaan mental dan moral seseorang akan teruji, melalui tempaan pula menjadikan seseorang dapat mengatasi masalah-masalah dengan penuh ketabahan dan kegigihan. Melalui tempaan pula mereka memperoleh nilai tambah. Disiplin tersebut akan terwujud melalui pembinaan sejak dini, sejak usia muda, dimulai dari lingkungan keluarga melalui pendidikan yang tertanam sejak usia muda yang semakin lama semakin menyatu dalam dirinya dengan bertambahnya usia.

Sehingga dalam hal ini dalam pendidikan khususnya didalam sekolah disiplin harus bisa diterapkan kepada para siswa tentu saja dengan proses dan cara penerapan serta pembinaan yang berlanjut yang menjadikan siswa mempunyai kedisiplinan dalam dunia sekolah yang berlaku dalam dunia pendidikan.

Sehubungan dengan hal tersebut, pada tahun 1991 tepatnya tanggal 17 Juli yayasan pendidikan tingkat menengah atas/ umum yakni Madrasah Aliyah Ghozaliyah yang sejalan dengan tuntutan kualitas sumber daya manusia. Berkaitan dengan hal itu, sangat perlu pengembangan kualitas pada diri peserta didik. Kedisiplinan dan Motivasi sangat diperlukan untuk menunjang kualitas dan khususnya prestasi. Motivasi dan disiplin yang terdapat pada diri siswa menjadi faktor utama untuk pencapaian prestasi belajar yang baik. Tetapi pada kenyataannya faktor dari dalam diri saja tidak sepenuhnya menunjang  dalam proses prestasi belajar tanpa adanya dukungan dari guru sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar. 

Dari uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka peneliti mengambil judul Pengaruh Disiplin dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI di M.A. Ghozaliayh Jogoroto Jombang Tahun Pelajaran 2011/2012.

1.2   Batasan masalah

Berdasarkan pada latar belakang  di atas, maka untuk menghindari perbedaan persepsi dalam memahami dan mengartikan masalah. Maka peneliti perlu memberikan batasan masalah sesuai dengan judul, yaitu:

  1. pengaruh disiplin siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di MA Ghozaliyah Jogoroto Jombang tahun pelajaran 2011/2012,
  2. pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di MA Ghozaliyah Jogoroto Jombang tahun pelajaran 2011/2012

 

1.3   Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

adakah pengaruh disiplin dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di MA Ghozaliyah Jogoroto Jombang tahun pelajaran 2011/2012?

1.4   Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisa pengaruh disiplin dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di MA Ghozaliyah Jogoroto Jombang tahun pelajaran 2011/2012.

1.5   Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara (Suharsimi Arikunto,2002:64). Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah: ada pengaruh yang signifikan antara Kedisiplinan dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di MA Ghozaliyah Jogoroto Jombang tahun pelajaran 2011/2012.

1.6   Manfaat

1)      Manfaat Praktis 

a)    Bagi siswa dapat digunakan sebagai tolak ukur hasil prestasi dalam belajar sehingga siswa dapat melihat hasil yang telah diraihnya dan untuk dapat lebih meningkatkan prestasi belajar yang lebih baik.

b)   Bagi Guru sebagai informasi agar lebih dapat meningkatkan pengawasan dan proses belajar mengajar. 

c)    Bagi peneliti dapat menambah ilmu pengetahuan sebagai hasil pengamatan langsung serta dapat memahami penerapan disiplin ilmu yang diperoleh selama studi di perguruan tinggi.

2)      Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam rangka penyusunan teori atau konsep-konsep baru  terutama untuk menerapkan motivasi dan disiplin untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

1.7   Definisi operasional

Agar tidak terjadi penaksiran yang berbeda terhadap semua variael yang terdapat pada penelitian ini, maka perlu di berikan istilah yang di definisikan yaitu:

1)      disiplin yaitu pernyataan sikap mental individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan,

2)      motivasi belajar yaitu kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar,

3)      prestasi belajar yaitu hasil kemampuan seseorang pada bidang tertentu dalam mencapai tingkat kedewasaan yang langsung dapat diukur dengan tes penilaian dapat berupa angka atau huruf.

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1  Peneliti terdahulu

Saputro F. K. 2002, merupakan salah satu peneliti yang membahas tentang pengaruh motivasi dan disiplin terhadap prestasi belajar peserta didik. Dalam penelitiannya dia menyatakan beberapa hal di antaranya adalah :

  1. disiplin belajar merupakan sikap mental individu yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan belajar. Bagi siswa berdisiplin sangat penting, sebab akan membuat seorang siswa memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik, juga merupakan suatu proses ke arah pembentukan watak yang baik,
  2. motivasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan aktivitas manusia karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia supaya mau bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal,
  3. Kondisi siswa juga berpengaruh terhadap motivasi siswa dalam belajar. Dengan kondisi fisik maupun psikologis yang baik akan mendukung siswa untuk belajar.

Purnomowati Riris, 2006. Pengaruh Disiplin dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK Teuku Umar. Semarang Tahun Ajaran 2005/2006, Under Graduates thesis: Universitas Negeri Semarang. Faktor motivasi belajar memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap prestasi belajar siswa daripada faktor disiplin belajar. Oleh karena itu peneliti menyarankan dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, hendaknya guru dapat lebih meningkatkan disiplin belajar siswa, melalui pemberian tugas rumah dengan frekuensi yang lebih sering dan dikoreksi agar siswa berusaha belajar di rumah secara mandiri. Selain itu siswa sebaiknya mengatur waktu belajar di rumah dan belajar secara teratur dengan cara mengulang kembali materi pelajaran di rumah. Guru harus bisa membangkitkan motivasi belajar siswa pada saat menyampaikan materi pelajaran dengan cara menggunakan metode mengajar yang bervariasi seperti ceramah, tanya jawab, latihan soal, dan diskusi. Selain itu pemberian pujian, hadiah, dan hukuman yang tepat bagi siswa dapat membangkitkan motivasi belajar siswa.

Tabel 2.1 Perbandingan penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan

No

Nama Peneliti

Judul Penelitian

Alat analisis

Dan unit analisis

Hipotesis Penelitian

Persamaan

 

Perbedaan

1

Saputro F.K. (2002)

Pengaruh Motivasi dan Disiplin Terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik

Peserta didik di malang dan Multiple

Analysis

Regression

Ada pengaruh Motivasi dan Disiplin terhadap Prestasi Siswa

Variabel X1, X2 dan Y.

Dan Regresi Linier Berganda

Objek Penelitian diambil secara umum di Malang

2

Purnomowati Riris, (2006)

Pengaruh Disiplin dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMK Teuku Umar

Disiplin dan Motivasi siswa dan Regresi Linier Berganda

 

 

Variabel X1, X2 dan Y.

Dan Regresi Linier Berganda

Sampel diambil secara Random Sampling

No

Nama Peneliti

Judul Penelitian

Alat analisis

Dan unit analisis

Hipotesis Penelitian

3

R.Wakhid Hamza K. (2012)

Pengaruh Disiplin dan Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI di M.A. Ghozaliyah Jogoroto Jombang Tahun Pelajaran 2011/2012

Disiplin, Motivasi belajar dan Prestasi Belajar dan Regresi Linier Berganda

Ada Pengaruh Disiplin dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa kelas XI di M.A. Ghozaliyah Jogoroto Jombang tahun Pelajaran 2011/2012

 

2.2  Disiplin

Disiplin bagi peserta didik adalah hal yang rumit dipelajari sebab merupakan hal yang kompleks dan banyak kaitannya, yaitu terkait dengan pengetahuan, sikap dan perilaku. Masalah disiplin yang dibahas dalam penelitian ini adalah disiplin yang dilakukan oleh para siswa dalam kegiatan belajarnya baik di rumah maupun di sekolah. Untuk lebih memahami tentang disiplin belajar terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian disiplin menurut beberapa ahli.

  1. Ekosiswoyo dan Rachman (2000:97), disiplin hakikatnya adalah pernyataan sikap mental individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa ketaatan, kepatuhan, yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan.
  2. Arikunto (1990:114), di dalam pembicaraan disiplin dikenal dua istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi pembentukannya secara berurutan. Kedua istilah itu adalah disiplin dan ketertiban, ada juga yang menggunakan istilah siasat dan ketertiban. Ketertiban menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti  peraturan dan tata tertib karena didorong oleh sesuatu dari luar misalnya karena ingin mendapat pujian dari atasan. Selanjutnya pengertian disiplin  atau siasat menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti tata tertib karena didorong kesadaran yang ada pada kata hatinya. Itulah sebabnya biasanya ketertiban itu terjadi dahulu, kemudian berkembang menjadi siasat.
  3. Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) (1997:11), makna kata disiplin dapat dipahami dalam kaitannya dengan latihan yang memperkuat, koreksi dan sanksi, kendali atau terciptanya ketertiban dan keteraturan dan sistem aturan tata laku.

Selanjutnya akan diuraikan pendapat para ahli tentang pengertian belajar antara lain:

a).    menurut W. S. Winkel (dalam Max Darsono, 2000:4), belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap,

b).    sedangkan menurut Slameto (2003:2), belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya,

Dari seluruh pengertian antara disiplin dan belajar, dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud disiplin belajar dalam penelitian ini adalah pernyataan sikap dan perbuatan siswa dalam melaksanakan kewajiban belajar secara sadar dengan cara menaati peraturan yang ada di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Berdisiplin sangat penting bagi setiap siswa. Berdisiplin akan membuat seorang siswa memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik, juga merupakan suatu proses ke arah pembentukan watak yang baik. Fungsi disiplin menurut Tulus Tu’u (2004:38) adalah:

1)    menata kehidupan bersama,

Disiplin berguna untuk menyadarkan seseorang bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga tidak akan merugikan pihak lain dan hubungan dengan sesama menjadi baik dan lancar.

2)    membangun kepribadian,

Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan tersebut memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Oleh karena itu, dengan disiplin seseorang akan terbiasa mengikuti , mematuhi aturan yang berlaku dan kebiasaan itu lama kelamaan masuk ke dalam dirinya serta berperan dalam membangun kepribadian yang baik.

 

 

 

3)    melatih kepribadian,

                Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin terbentuk melalui latihan. Demikian juga dengan kepribadian yang tertib, teratur dan patuh perlu dibiasakan dan dilatih.

4)    pemaksaan,

Disiplin dapat terjadi karena adanya penaksaan dan tekanan dari luar, misalnya ketika seorang siswa yang kurang disiplin masuk ke satu sekolah yang berdisiplin baik, terpaksa harus mematuhi tata tertib yang ada di sekolah tersebut.

5)    hukuman,

Tata tertib biasanya berisi hal-hal positif dan sanksi atau hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut.

6)    menciptakan lingkungan yang kondusif,

Disiplin sekolah berfungsi mendukung terlaksananya proses dan kegiatan pendidikan agar berjalan lancar dan memberi pengaruh bagi terciptanya sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan pembelajaran.

Menurut Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) (1997:15), disiplin dapat terjadi dengan cara:

a)      disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan dan diterapkan dalam semua aspek menerapkan sanksi serta dengan bentuk ganjaran dan hukuman,

b)      disiplin seseorang adalah produk sosialisasi sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, terutama lingkungan sosial. Oleh karena itu, pembentukan disiplin tunduk pada kaidah-kaidah proses belajar,

c)      dalam membentuk disiplin, ada pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar, sehingga mampu mempengaruhi tingkah laku pihak lain ke arah tingkah laku yang diinginkannya. Sebaliknya, pihak lain memiliki ketergantungan pada pihak pertama, sehingga ia bisa menerima apa yang diajarkan kepadanya,

Terdapat beberapa faktor atau sumber yang dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang dapat mengganggu terpeliharanya disiplin. Menurut Ekosiswoyo dan Rachman (2000:100-105), contoh-contoh sumber pelanggaran disiplin antara lain:

  1. dari sekolah, contohnya:

a)     tipe kepemimpinan guru atau sekolah yang otoriter yang senantiasa mendiktekan kehendaknya tanpa memperhatikan kedaulatan siswa. Perbuatan seperti itu mengakibatkan siswa menjadi berpura-pura patuh, apatis atau sebaliknya. Hal itu akan menjadikan siswa agresif, yaitu ingin berontak terhadap kekangan dan perlakuan yang tidak manusiawi yang mereka terima,

b)    guru yang membiarkan siswa berbuat salah, lebih mementingkan mata pelajaran daripada siswanya,

c)     lingkungan sekolah seperti: hari-hari pertama dan hari-hari akhir sekolah (akan libur atau sesudah libur), pergantian pelajaran, pergantian guru, jadwal yang kaku atau jadwal aktivitas sekolah yang kurang cermat, suasana yang gaduh, dll

  1. dari keluarga, contohnya:

a)      lingkungan rumah atau keluarga, seperti kurang perhatian, ketidak teraturan, pertengkaran, masa bodoh, tekanan, dan sibuk urusannya masing-masing,

b)      lingkungan atau situasi tempat tinggal, seperti lingkungan kriminal, lingkungan bising, dan lingkungan minuman keras,

Menurut Arikunto (1990:137) macam-macam disiplin ditunjukkan dengan tiga perilaku yaitu perilaku kedisiplinan di dalam kelas, perilaku kedisiplinan di luar kelas di lingkungan sekolah, dan perilaku kedisiplinan di rumah.

Sedangkan Sofchah Sulistyowati (2001:3) menyebutkan agar seorang pelajar dapat belajar dengan  baik ia harus bersikap disiplin, terutama disiplin dalam hal-hal sebagai berikut:

a)     disiplin dalam menepati jadwal belajar,

b)    disiplin dalam mengatasi semua godaan yang akan menunda-nunda waktu belajar,

c)     disiplin terhadap diri sendiri untuk dapat menumbuhkan kemauan dan semangat belajar baik di sekolah seperti menaati tata tertib, maupun disiplin di rumah seperti teratur dalam belajar,

d)    disiplin dalam menjaga kondisi fisik agar selalu sehat dan fit dengan cara makan yang teratur dan bergizi serta berolahraga secara teratur,

Dari beberapa macam disiplin menurut pendapat para ahli di atas, berikut diambil indikator yang dapat menunjang disiplin belajar, yaitu:

  1. menaati tata tertib sekolah,
  2. perilaku kedisiplinan di dalam kelas,
  3. disiplin dalam menepati jadwal belajar,
  4. belajar secara teratur,

2.3  Motivasi belajar

Motivasi berasal dari kata Latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. “Motivasi sangat diperlukan dalam pelaksanaan aktivitas manusia karena motivasi merupakan hal yang dapat menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia supaya mau  bekerja giat dan antusias untuk mencapai hasil yang optimal” (Malayu S.P Hasibuan, 2001:141)

Motivasi dapat diartikan sebagai suatu usaha agar seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat karena ada tujuan yang ingin dicapai (Terry G.R. 2003:130) . Manusia mempunyai motivasi yang berbeda tergantung dari banyaknya faktor seperti kepribadian, ambisi, pendidikan dan usia. Motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif atau perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Mc. Donald dalam Oemar Hamalik, 2003 : 106).

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik, karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat dia lakukan untuk mencapainya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000 : 114).

Seseorang dikatakan berhasil dalam belajar apabila didalam dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar, sebab tanpa mengerti apa yang akan dipelajari dan tidak memahami mengapa hal tersebut perlu dipelajari, maka kegiatan belajar mengajar sulit untuk mencapai keberhasilan. Keinginan atau dorongan inilah yang disebut sebagai motivasi.

Dengan motivasi orang akan terdorong untuk bekerja mencapai sasaran dan tujuannya karena yakin dan sadar akan kebaikan, kepentingan dan manfaatnya. Bagi siswa motivasi ini sangat penting karena dapat menggerakkan perilaku siswa kearah yang positif sehingga mampu menghadapi segala tuntutan, kesulitan serta menanggung resiko dalam belajar.

Dalam kaitannya dengan belajar, motivasi sangat erat hubungannya dengan kebutuhan aktualisasi diri sehingga motivasi paling besar pengaruhnya pada kegiatan belajar siswa yang  bertujuan untuk mencapai prestasi tinggi. Apabila tidak ada motivasi belajar dalam diri siswa, maka akan timbul rasa malas untuk belajar baik dalam mengikuti proses belajar mengajar maupun mengerjakan tugas-tugas individu dari guru. Orang yang mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar maka akan timbul minat yang besar dalam mengerjakan tugas, membangun sikap dan kebiasaan  belajar yang sehat melalui penyusunan jadwal belajar dan melaksanakannya dengan tekun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar (Max Darsono dkk 2000:34) antara lain:, yaitu:

  1. cita-cita,  

Cita-cita adalah sesuatu target yang ingin dicapai. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang. Munculnya cita-cita seseorang disertai dengan perkembangan akar, moral kemauan, bahasa dan nilai-nilai kehidupan yang juga menimbulkan adanya perkembangan kepribadian.                                                                        

  1. kemampuan belajar, 

Setiap siswa memiliki kemampuan belajar yang berbeda. Hal ini diukur melalui taraf perkembangan berpikir siswa, dimana siswa yang taraf perkembangan berpikirnya konkrit tidak sama dengan siswa yang sampai pada taraf perkembangan berpikir rasional. Siswa yang merasa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, maka akan mendorong dirinya berbuat untuk mewujudkan tujuan yang ingin diperolehnya dan sebaliknya yang merasa tidak mampu akan merasa malas.

  1. kondisi siswa, 

Kondisi siswa dapat diketahui dari kondisi fisik dan kondisi psikologis, karena siswa adalah makluk yang terdiri dari kesatuan psikofisik. Kondisi fisik siswa lebih cepat diketahui daripad kondisi psikologis. Hal ini dikarenakan kondisi fisik lebih jelas menunjukkan gejalanya daripada kondisi psikologis.

 

  1.  kondisi lingkungan,

Kondisi lingkungan merupakan unsur yang datang dari luar diri siswa yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan fisik sekolah, sarana dan prasarana  perlu ditata dan dikelola agar dapat menyenangkan dan membuat siswa merasa nyaman  untuk belajar. Kebutuhan emosional psikologis juga perlu mendapat perhatian, misalnya kebutuhan rasa aman, berprestasi, dihargai, diakui yang harus dipenuhi agar motivasi belajar timbul dan dapat dipertahankan.  

  1. unsur-unsur dinamis dalam belajar.

Unsur-unsur dinamis adalah unsur-unsur yang keberadaannya didalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali misalnya gairah belajar, emosi siswa dan lain-lain. Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan selama proses belajar, kadang-kadang kuat atau lemah.

  1. upaya guru membelajarkan siswa,

Upaya guru membelajarkan siswa adalah usaha guru dalam mempersiapkan diri untuk membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya guru hanya sekedar mengajar, artinya keberhasilan guru yang menjadi titik tolak, besar kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar sehingga motivasi belajar siswa menjadi melemah atau hilang (Max Darsono, 2000:65 ; Dimyati dan Mudjiono, 1994:90-92).

Motivasi mempunyai fungsi yang sangat penting dalam belajar siswa, karena motivasi akan menentukan intensitas usaha belajar yang dilakukan oleh siswa. Hawley (Yusuf, 2003 : 14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki motivasi yang tinggi, belajarnya lebih baik dibandingkan dengan para siswa yang memiliki motivasi rendah. Hal ini berarti siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan tekun dalam belajar dan terus belajar secara kontinyu tanpa mengenal putus asa serta dapat mengesampingkan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar. Menurut Sardiman (2004:83) fungsi motivasi adalah :

1)   mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan,

2)   menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai, dengan demikian motivasi dapat memberi arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya,

3)   menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Dari pendapat di atas sangat jelas  bahwa motivasi sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena motivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar tersebut diperlukan suatu upaya yang dapat meningkatkan motivasi siswa, sehingga siswa yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

Jenis- jenis motivasi belajar, menurut Sardiman AM (2001: 88-90)  motivasi dibagi menjadi dua tipe atau kelompok yaitu intrinsic dan ekstrinsik:

1)   motivasi intrinsik,

Motivasi intrinsik merupakan motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang  dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contohnya seseorang yang senang membaca tidak usah disuruh  atau mendorongnya, ia sudah rajin membaca buku-buku untuk dibacanya.

2)   motivasi ekstrinsik,

Motivasi ekstrinsik merupakan motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Contohnya seseorang itu belajar, karena tahu besok pagi ada ujian dengan harapan akan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapatkan hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu.

Pentingnya motivasi bagi siswa menurut Diimyati dan Mudjiono, (1994: 79) adalah  :

  1. menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir belajar,
  2. menginformasikan tentang usaha belajar, bila dibanding dengan teman sebaya sebagai ilustrasi, terbukti kegiatan usahanya belum memadai, maka ia berusaha setekun mungkin agar berhasil,
  3. mengarahkan kegiatan belajar, mengetahui bahwa dirinya belum belajar secara efektif, maka ia mengubah perilaku belajarnya,
  4. membesarkan semangat belajar,
  5. menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja.

Gejala kurang motivasi belajar akan dimanifestasikan, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam tingkah laku. Beberapa ciri tingkah laku yang berhubungan dengan rendahnya motivasi belajar :

  1. malas melakukan tugas kegiatan belajar, seperti malas mengerjakan PR, malas dalam membaca, dan lain-lain,
  2. bersikap acuh tak acuh, menentang dan sebagainya,
  3. menunjukkan hasil belajar yang rendah  dibawah nilai rata-rata yang dicapai kelompoknya atau kelas,
  4. menunjukkkan tingkah laku sering membolos, tidak mengerjakan tugas yang diberikan dan sebagainya,
  5. menunjukkan gejala emosional yang tidak wajar seperti pemarah, mudah tersinggung.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000 : 117) yang tergolong bentuk motivasi belajar ekstrinsik antara lain:

a)      belajar demi memenuhi kewajiban,

b)      belajar demi menghindari hukuman yang diancam,

c)      belajar demi memperoleh hadiah material yang dijanjikan,

d)     belajar demi meningkatkan gengsi sosial,

e)      belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan jenjang,

f)       belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting.

Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah bentuk motivasi yang di dalam aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Yang tergolong dalam motivasi intrinsik adalah:

  1. belajar karena ingin mengetahui seluk-beluk masalah selengkap-lengkapnya,
  2. belajar karena ingin menjadi orang terdidik atau menjadi ahli bidang studi pada penghayatan kebutuhan dan siswa berdaya upaya melui kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat.

Motivasi sangat penting untuk mencapai keberhasilan siswa dalam belajar. Motivasi belajar merupakan motor penggerak yang mengaktifkan siswa untuk melibatkan diri (Winkel, 2004 : 186). Motivasi yang kuat akan membuat siswa sanggup bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuannya, dan motivasi itu muncul karena dorongan adanya kebutuhan. Teori kebutuhan Maslow menjelaskan bahwa Dorongan seseorang untuk belajar sebagai berikut:

  1. kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya,
  2. kebutuhan akan keamanan, yakni rasa aman bebas dari rasa takut dan kecemasan,
  3. kebutuhan akan cinta kasih, rasa diterima dalam suatu masyarakat atau golongan (keluarga, sekolah, kelompok),
  4. kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan pembentukan pribadi.

Dari berbagai macam kebutuhan tersebut, ada cara untuk merangsang motivasi belajar siswa yang merupakan dorongan intrinsik. Menurut Sardiman (2001:90) beberapa cara menumbuhkan motivasi belajar di sekolah adalah dengan:

1)      memberikan angka sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya.

2)      hadiah

3)      persaingan / kompetisi baik individu maupun kelompok.

4)      ego-invoicement, sebagai tantangan untuk mempertaruhkan harga diri.

5)      memberi ulangan

6)      mengetahui hasil

7)      pujian

8)      hukuman

9)      hasrat untuk belajar

10)  minat

11)  tujuan yang diakui

 

2.4  Prestasi

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar diperlukan adanya evaluasi yang nantinya akan dijadikan sebagai tolok ukur maksimal yang telah dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar selama waktu yang telah ditentukan. Apabila pemberian materi telah dirasa cukup, guru dapat melakukan tes yang hasilnya akan digunakan sebagai ukuran dari prestasi belajar yang bukan hanya terdiri dari nilai mata pelajaran saja tetapi juga mencakup nilai tingkah laku siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar. Prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu.” Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru” (Tulus Tu`u, 2004:75).

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil kemampuan seseorang pada bidang tertentu dalam mencapai tingkat kedewasaan yang langsung dapat diukur dengan tes. Penilaian dapat berupa angka atau huruf. Keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai dengan bakat yang dimiliki, ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran yang dikembangkan guru. Suasana keluarga yang mendorong anak untuk maju, selain itu lingkungan sekolah yang tertib, teratur dan disiplin merupakan pendorong dalam proses pencapaian prestasi belajar (Tulus Tu`u, 2004: 81).                 

Menurut Merson U. Sangalang yang dikutip oleh Tulus Tu’u (2004:78) ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mencapai hasil belajar yang baik, antara lain:

  1. faktor kecerdasan,

Tinggi rendahnya kecerdasan yang dimiliki siswa sangat menentukan keberhasilannya mencapai prestasi belajar, termasuk prestasi-prestasi lain yang ada pada dirinya.

  1. faktor bakat.

Bakat-bakat yang dimiliki siswa apabila diberi kesempatan  untuk dikembangkan dalam pembelajaran akan dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan.

  1. faktor minat dan perhatian.

Minat adalah kecenderungan yang besar terhadap sesuatu. Perhatian adalah melihat dan mendengar dengan baik serta teliti terhadap sesuatu. Apabila siswa menaruh minat pada satu pelajaran tertentu biasanya cenderung untuk memperhatikannya dengan baik. Minat dan perhatian yang tinggi pada mata pelajaran akan memberi dampak yang baik bagi prestasi belajar siswa.

  1. faktor motif.

Motif selalu selalu mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Apabila dalam belajar, siswa mempunyai motif yang baik dan kuat, hal ini akan memperbesar usaha dan kegiatannya mencapai prestasi yang tinggi.

  1. faktor cara belajar.

Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh cara belajar siswa. Cara belajar yang efisien memungkinkan mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara belajar yang tidak efektif.

  1. faktor lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan salah satu potensi yang besar dan positif memberi pengaruh pada prestasi siswa. Terutama dalam hal mendorong, memberi semangat, dan memberi teladan yang baik kepada anaknya.

  1. faktor sekolah.

Sekolah merupakan faktor pendidikan yang sudah terstruktur, memiliki sistem, dan organisasi yang baik bagi penanaman nilai-nilai etika, moral, mental, spiritual, disiplin dan ilmu pengetahuan  (Tulus Tu’u, 2004:78).

Pencapaian prestasi belajar yang baik tidak hanya diperoleh dari tingkat kecerdasan siswa saja, tetapi juga didukung oleh lingkungan keluarga dan sekolah dimana guru dan alat belajar dijadikan sebagai sumber belajar bagi kelancaran proses belajar mengajar. Keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai dengan bakat yang dimiliki, ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran yang dikembangkan guru. Suasana keluarga yang mendorong anak untuk maju, selain itu lingkungan sekolah yang tertib, teratur dan disiplin merupakan pendorong dalam proses pencapaian prestasi belajar (Tulus Tu`u, 2004: 81).

Sedangkan Syah (1999:144) secara global menjelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi belajar siswa dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

a)      faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.

b)      faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa.

c)      faktor pendekatan belajar(approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran mater – materi pelajaran.

Jadi, keberhasilan siswa mencapai hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor itu terdiri dari tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai bakat yang dimiliki, ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran variatif yang dikembangkan guru. Suasana keluarga yang memberi dorongan anak untuk maju. Selain itu, lingkungan sekolah yang tertib, teratur, disiplin, yang kondusif bagi kegiatan kompetisi siswa dalam pembelajaran.

Masyarakat kita sekarang ini pada satu sisi adalah masyarakat pertanian, pada sisi lain sudah memasuki era globalisasi yang terdiri dari era industri, teknologi dan informasi. Perubahan kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya berlangsung cepat. Perubahan cepat ini membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat baik positif maupun negatif.

Pola kehidupan positif adalah melihat perubahan itu sebagai sesuatu yang harus diterima dan dihadapi. Di dalamnya ada hal-hal yang dapat dianggap sebagai sesuatu yang baik, memberi kemudahan dan kenyamanan serta peningkatan martabat hidup manusia. Manusia juga melihat adanya tantangan dan peluang bagi kemajuan hidup manusia. Oleh sebab itu, manusia membangun dan melengkapi diri dengan memperkuat keimanan, mental, budaya, disiplin, keterampilan dan pengetahuan. Dengan demikian, manusia mampu bertahan dan menghadapi gelombang perubahan yang cepat tersebut.

Sementara pola kehidupan negatif adalah melihat perubahan itu sebagai ancaman yang membahayakan kehidupan. Menutupi diri terhadap perubahan akan tertinggal dan terbelakang. Pada sisi lain, tanpa membekali diri secara positif seperti di atas, manusia ikut arus dan menikmati perubahan yang terjadi. Akan tetapi, hal itu membawa dampak negatif dalam sikap dan perilaku serta kehampaan batiniahnya.

Oleh karena itu, para siswa pada masa sekarang ini, menghadapi begitu banyak ancaman dan tantangan. Prestasi yang dicapai dalam pembelajaran pun terhambat dan belum optimal. Menurut Slameto (2003: 54 – 71) ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar anak antara lain :

  1. faktor – faktor Intern

a)      Faktor jasmaniah meliputi faktor Kesehatan, faktor Cacat tubuh.

b)      Faktor psikologis meliputi faktor Intelegensi, Perhatian, Minat, Bakat, Motif, Kematangan, Kesiapan.

c)      Faktor Kelelahan meliputi, Kelelahan jasmani,Kelelahan rohani (bersifat psikis) yaitu kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan kecenderungan membaringkan tubuh, kelelahan rohani terliahat dengan adanya kebosanan sehingga minat belajar kurang.

  1. Faktor – faktor Ekstern

a)      Faktor keluarga meliputi, Cara orang tua mendidik, Relasi antar anggota keluarga, Suasana rumah, Keadaan ekonomi keluarga, Pengertian orang tua, Latar belakang kebudayaan.

b)      Faktor Sekolah meliputi, Metode mengajar, Kurikulum, Relasi guru dengan siswa, Relasi siswa dengan siswa, Disiplin sekolah, Alat pelajaran, Waktu sekolah, Standart  pelajaran di atas ukuran, Keadaan gedung, Metode belajar, Tugas rumah 

c)      Faktor masyarakat mliputi, Kegiatan siswa dalam masyarakat, Teman bergaul, Bentuk kehidupan masyarakat.

Dengan menjelaskan prestasi belajar  di atas bisa mengetahui tentang bagaimana proses dari belajar mengajar yang merupakan suatu proses mendasar dalam pencapaian prestasi belajar. Prestasi belajar yang kurang optimal, hal itu kemungkinan disebabkan siswa mengalami kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu untuk mengetahui faktor – faktor apa yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam belajar.

2.5  Pengaruh Disiplin dan Motivasi belajar terhadap Prestasi belajar siswa

Disiplin dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa (Riris Purnomowati.2006). Faktor motivasi belajar memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap prestasi belajar siswa daripada faktor disiplin belajar. Oleh karena itu peneliti menyarankan dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, hendaknya guru dapat lebih meningkatkan disiplin belajar siswa, melalui pemberian tugas rumah dengan frekuensi yang lebih sering dan dikoreksi agar siswa berusaha belajar di rumah secara mandiri. Selain itu siswa sebaiknya mengatur waktu belajar di rumah dan belajar secara teratur dengan cara mengulang kembali materi pelajaran di rumah, mempersiapkan materi pelajaran untuk esok harinya dan mengerjakan latihan soal di rumah. Guru harus bisa membangkitkan motivasi belajar siswa pada saat menyampaikan materi pelajaran dengan cara menggunakan metode mengajar yang bervariasi seperti ceramah, tanya jawab, latihan soal, dan diskusi. Selain itu pemberian pujian, hadiah, dan hukuman yang tepat bagi siswa dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Pemberian hukuman dapat dilakukan apabila siswa tidak mengerjakan tugas rumah dengan cara mengerjakan soal yang berbeda dari sebelumnya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

3.1  Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian merupakan pemecahan masalah yang akan diteliti, maka peneliti mempunyai rancangan sebagai berikut :

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian

Keterangan :

  • Variabel X1 (variabel bebas)  = Disiplin
  • Variabel X2 (variabel bebas)  = Motivasi Belajar
  • Variabel Y (variabel terikat) = Prestasi Belajar

Didasarkan pada judul yang peneliti ajukan “Pengaruh Disiplin dan Motivasi Belajar Siswa Terhadao Prestasi Belajar Siswa Kelas XI di MA Ghozaliyah Jogoroto Jombang Tahun Pelajaran 2011/2012“. Maka rancangan dalam penelitian ini adalah diskripitif kuantitatif, karena sasaran dalam kajian adalah variabel – variabel yang saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lain. Pendekatan yang digunakan adalah diskriptif, yaitu merupakan penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi.

Tujuannya adalah untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan current status dari subyek yang diteliti (Indrianto,2001). Melalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui Pengaruh disiplin dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di M.A. Ghozaliyah Jogoroto Jombang.

Berdasarkan pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa metode pada hakekatnya adalah pembahasan atau cara membahas yang di gunakan suatu penelitian guna mendapatkan data – data yang obyektif, yang hasilnya dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah.

3.2  Populasi dan Sampel

A. Populasi

Untuk memperjelas penelitian ini, maka peneliti memberi batasan tentang definisi populasi yaitu adalah seluruh penduduk atau kelompok paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama.

Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh peserta didik MA Ghozaliyah Kelas XI IPS tahun ajaran 2011/2012. Adapun jumlah siswa yang ada di MA Ghozaliyah kelas XI IPS  adalah 67 siswa yang terbagi menjadi 2 kelas .

Apabila subyek kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitian penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subyek besar dapat di ambil antara 10-15%  atau 20-25% atau lebih (Ari Kunto, 1986:107 )

Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah population sampling yang teknik pelaksanaanya dilakukan dengan mengambil semua populasi yang ada, karena jumlah subyek penelitian yang tidak mencapai 100 orang.

3.3  Variabel Penelitian

Variabel adalah obyek penelitian atau apa saja yang menjadi titik suatu penelitian (Suharsimi Arikunto,2002:96). Variabel adalah gejala yang menjadi penelitian atau apa saja yang menjadi perhatian penelitian, yaitu :

  1. Variabel bebas (X)

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2002:21). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:

a)      Disiplin Belajar ( X1) Yang memiliki indikator, 1). Menaati tata tertib sekolah, 2). Perilaku kedisiplinan dalam kelas, 3). Disiplin dalam menepati jadwal belajar, 4). Belajar secara teratur

b)      Motivasi belajar (X2) Yang memiliki indikator,1).Cita-cita, 2).Kemampuan Belajar, 3). Kondisi Siswa, 4). Kondisi Lingkungan, 5). Unsur-unsur dinamis dalam Belajar Siswa, 6). Upaya guru membelajarkan siswa

  1. Variabel terikat ( Y )

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2002:21). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar yang memiliki indikator yaitu nilai yang dicapai dari rata-rata nilai rapor semester gasal 2011.

3.4  Teknik pengumpulan data

Untuk memperoleh data guna memecahkan masalah penelitian, maka data tersebut harus di cari dari sumber data, pencarian data haruslah tepat dan dapat di pertanggung jawabkan ke ilmiahannya. Data yang akan dikumpulkan dari sumber yang ditetapkan tidak dapat dikumpulkan begitu saja. Harus ada prosedurnya agar data yang dikumpulkan dikatakan valid sebagai data yang akan di olah. Oleh karena itu untuk memperoleh data yang baik dan relevan dalam penelitian ini, di gunakan beberapa teknik atau metode, antara lain :

a).       observasi,

Teknik ini dilakukan dengan cara mengamati terhadap objek penelitian dan mencatat fenomena yang diselidiki. Pelaksanaan teknik observasi dapat dilakukan dengan Berperan Pasif (H. B Sutopo, 2002:65),

Peneliti hanya mendatangi lokasi, tetapi sama sekali tidak berperan sebagai apapun selain sebagai pengamat pasif, namun hadir dalam konteksnya. Mengenai perilaku dan kondisi lingkungan penelitian bisa dilakukan observasi baik secara formal maupun informal. Peneliti memilih observasi terbuka, sebagaimana tercermin dari namanya, dan pada dasarnya tidak mempunyai sasaran atau struktur yang tertentu sebelum dilaksanakannya observasi. dalam hubungan ini, tidak ada alat Bantu observasi yang dipersiapkan secara khusus. Peneliti cukup menyediakan kertas kosong untuk mencatat hal-hal yang dinilai menarik atau penting selama observasi. Pencatatan biasanya diwujudkan dalam bentuk butir-butir kunci yang pengembangannya akan dilakukan kemudian.

Metode ini di gunakan sebelum  peneliti mengambil data kongkrit. Dengan metode ini, peneliti dapat melibatkan diri secara langsung kepada populasi dalam situasi yang di selidiki  sehingga peneliti dapat melihat dari dekat gejala – gejala yang ada pada populasi yang nantinya dapat mempermudah dalam pengambilan data.

b).            kuesioner,

Angket/kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharmi Arikunto, 1996:139). Dalam penelitian ini digunakan bentuk angket tertutup, yaitu angket yang kemungkinan jawabannya sudah ditentukan dahulu dan responden tidak diberi kesempatan memberikan jawaban lain (Masri Singarimbun, 1989 : 177). Bertujuan untuk mengukur pengaruh disiplin dan motivasi terhadap prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode Likert’s Summated Rating (LSR). Metode ini merupakan penskalaan pernyataan sikap yang  menggunakan  distribusi  respon  sebagai  dasar  penentuan  nilai  skalanya. Jumlah  alternatif  respon  yang  ada  dalam  skala  Likert  ada  5  jenis  (sangat  setuju, setuju , ragu-ragu, tidak setuju, sangat setuju ).

c).             interview,

Guna mendukung dan memperjelas hasil penelitian, peneliti juga melakukan wawancara kepada responden atau siswa secara langsung terhadap beberapa dari populasi. Dalam metode ini, beberapa dari populasi akan di beri beberapa pertanyaan apa saja yang berhubungan dengan penelitian khususnya tentang kedisiplinan, motivasi belajar dan prestasi belajar siswa.

d).            metode dokumentasi,

Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang tertulis, didalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-banda tertulis atau gambar seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, foto dan sebagainya (Suharsimi 2002:135).

Peneliti mencatat dokumen-dokumen yang terkait dengan obyek penelitian, metode ini dilakukan untuk memperoleh data tentang jumlah, nama dan hasil belajar atau informasi lain yang berhubungan dengan penelitian ini seperti motivasi, kedisiplinan siswa dan prestasi belajar siswa.

 

3.5  Teknik analisis data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model regresi linier berganda yaitu suatu model regresi yang mengandung atas satu variabel dependen (Y) dan lebih dari satu variabel independen (X) dengan persamaan regresi sebagai berikut :

Y = a + b1x1 + b2x2 + e

Keterangan :

Y   :           Prestasi Belajar Siswa

a    :           Konstanta

b    :           Koefisien regresi

X1 :           Disiplin

X2 :           Motivasi belajar

e    :           Penggangu / error

3.6  Pengujian Hipotesis dengan Uji T test dan F test

  1. a.      Uji Parsial (Uji T)

Untuk menguji secara parsial  (Ujit T) dapat digunakan rumus sebagai berikut :

            Thitung   =            

            dimana:

            sb         =          standart error

            b          =          koofesien regresi

            Uji hipotesis

Ho : bi = 0, yang artinya variabel bebas (X) secara parsial tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (Y)

Ha :   bi  ¹  0,  yang artinya variabel bebas (X) secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat (Y)

            Kriteria pengujian

  1. Jika t hitung > t tabel atau –t hitung < -t tabel, maka Ho ditolak artinya variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat
  2. Jika t hitung < t tabel atau – t hitung > – t tabel , maka Ho di terima artinya variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
  3. c.       Uji Simultan (Uji F)

Yaitu uji untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas ( X ) mempunyai pengaruh yang signifikan atau tidak secara bersama-sama terhadap variabel terikat ( Y ). 

Menentukan nilai F hitung  Rumus yang di gunakan :  

            Fhitung  = 

dimana :

R²=      koofesien determinasi

k =       jumlah variabel bebas

n =       jumlah sampel

F = Fhitung yang selanjutnya dibandingkan dengan Ftabel

Pengujian hipotesis :

Ho : b1, b2 = 0, berarti tidak ada pengaruh yang nyata antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y)      

Ha : b1, b2 ¹ 0, berarti ada pengaruh yang nyata antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).

Adapun kriteria diterima atau ditolaknya suatu pengujian adalah jika Fhitung > Ftabel, maka pengujian dikatakan signifikan. Berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Begitu juga sebaliknya pengujian tidak diterima apabila Fhitung < Ftabel atau Ho ditolak dan Ha diterima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s