Pengertian Bakat dan Perbedaan – Perbedaan Dalam Bakat

Standard

Sumber Buku : Drs. Ngalim Purwanto, B.A. , M.A , Ed.S.,pH.D

PERBEDAAN – PERBEDAAN DALAM BAKAT

 

 

Image

 

PENDAHULUAN

              Telah di kemukakan pada bab 1 , bahwa sifat khas yang bersumber pada bakat besar peranan nya dalam proses pendidikan , dan  adalah hal yang ideal kalau kita dapet memberikan pendidikan yang bener – bener sesuai dengan bakat para anak didik kita .

               Tentang bakat, masalah nya sudah sama tuanya dengan masalh sendiri .sejak dahulu kala orang sudah berusaha menggarap masalah ini , walapun tentu saja kalau di pandang dari kacamata ilmu pengetahuan dewasa ini hasil nya masih sangat jauh dari memuaskan . urgensi untuk masalah masalah ini tetap masih ada sampai sekarang , terlebih – lebih dalem hubungan dengan usaha pendidikan dan pemilihan lapangan kerja . suatu hal yang dipandang self –  ifident ialah bahwac seeorang akan lebih berhasil kalau dia belajar dalam lapangan yang sesuai dengan bakat nya ; demikian pula dalem lapangan kerja , seseorang akan lebih berhasil kalau dia bekerja dalem lapangan yang sesuai denagn bakat nya .

                Di pandang dari segi pendidikan adalah mendesak sekali untuk mengenal bakat – bakat para anak  didik  seawall mungkin .akan tetapi tugas ini adalah tugas yang mudah untuk dikatakan , namun tidak mudah untuk dilaksanakan , namun tidak mudah untuk dilaksanakan . telah banyak usaha yang dilakukan , tetapi masih sekarang belum diketemukan alat atau cara yang bener – bener memadai . didalam bab ini , akan coba disoroti masalah bakat itu dari dua arah , sebagai usaha untuk menjawab pertanyaan – pertayaan :

  1. Apakah bakat itu ?
  2. Bagaimana cara kita mengenal bakat seeorang .

Hal yang pertama terutama bersifat konsepsional –teoritas , sedangkan hal yang kedua lebih bersifat metodologis.

 

A . APAKAH BAKAT ITU ?

                   Pertanyaan mengenai “apakah bakat itu “ , justru dalem bentuknya demikian itu ,telah banyak sekali menimbulkan persoalan . usaha untuk menjawab pertanyaan tersebut telah melahirkan bermacam –macam jawaban yang satu sama lain berbeda . sebagai ilustri di bawah ini diberikan beberapadefinisi , sebagai hasil dari usaha menjawab pertanyaan di atas . William B. Michael memberi definisi mengenai bakat sebagai berikut :

 An aptitudemay be defined as a person’s capacity , or hyphotical potential , for acqucisition of               acertain more or less weeldefined pattern of behavior in valued in the performance of a task respect to                                                                                         wich the individual has bad little or no previous training (Michael , 1960 :59 )

 

Jadi Michael meninjau bakat itu terutama dari segi kemampuan individu untuk melakukan sesuatu tugas , yang sedikit sekali tergantung kepada latihan mengenai hal tersebut .

 

              Bingham memberikan definisi sebagai berikut :

 Aptitude . . .  as a condition or set of a characteristics regarded as symptomatic of an individual’s ablity to acquire with training some ( usually specified ) knowledge , skill , or set of responses such as the blity to speak a language , to produce music , etc .

(bingham , 1937 : 16 )

 

Dalam definisi ini bingham menitik beratkan pada segi apa yang dapat dilakukan oleh individu , jadi segi performance , setelah individu mendapat kan latihan .

 

 

                 Woodworth dan marquis memberikan definisi demikian : “ aptitude is predictable achiement and can be measured by specially devised test “ (woodwoard dan marquis , 1957 :58 ) . bakat  (aptitude ) , oleh woodworth dan marquis dimsukkan dalem kemampuan (ablity ) . menurut dia ablity mempunyai 3 arti , yaitu :

 

  1. Achievement yang merupakan actual ability , yang dapet di ukur langsung dengan alat atau les tertentu .
  2. Capacity yang merupakan potential ablity , yang dapet diukur secara tidak langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu , di man akecakapan  ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan training yang intensif dan pengalaman .
  3. Aptitude , yaitu kualiatas yang hanya dapet diungkap / di ukur dengan tes khusus yang sengaja di buat untuk itu .

              Selanjut nya Guilford memberikan definisi yang lain lagi coraknya , yaitu : yang menyatakan bahwa “ . . .Aptitude pertains to abilities to perform  . there are actually as many abilities as there are actions to be performed  , bence traits of this kind are very numerous “ (Guilford , 1959 :8 ) . didalam pembahasan nya Guilford mengemukakan , bahwa aptitude itu mencakup 3 dimensi psikologis , yaitu :

1)      Dimensi perseptual ,

2)      Dimensi psiko – motor , dan

3)      Dimensi intelektual .

Tiap – tiap dimensi itu mengandung faktor – faktor psikologis yang lebih khusus lagi .seperti misal nya faktor memory , reasoning , dan sebagai nya .

 

                     Dari contoh – contoh yang telah dikemukakan itu terbukti bahwa tidak ada keseragaman pendapat diantara para ahli , mengenai soal  “ apakah bakat itu “ . namun perbedaan – perbedaan pendapat mereka sebenar nya tidak sebesar rumusan  – rumusan tersebut . rumusan – rumusan yang berbeda – beda tersebut sebenar nya merupakn penyorotan masalah bakat itu dari sudut –sudut yang berbeda – beda ; jadi di samping ada nya perbedaan  natar pendapat yang satu dan pendapat yang lain , pendapat – pendapat  tersebut juga saling melengkapi .

                      Orientasi yang lebih luas mengenai berbagai pendapat tentang bakat menunjuk kan , bahwa analisis tentang bakat selalu – seperti setiap analis psikologis yang lain – merupakan analisis tentang anilisis tentang tingkah laku . dan dari  analisis tentang tingkah laku itu kita ketemukan , bahwa dalam tingkah laku itu kita dapatkan gejala sebagai berikut :

a)      Bahwa individu melakukan seutu ,

b)      Bahwa apa yang di lakukan itu merupakan sebab dari suatu tertentu ( atau mempunyai akibat atau hasil tertentu ), dan

c)      Bahwa dia melakukan sesuatu itu dengan cara tertentu .

Karna itu analisis tingkah laku ini memberi kesimpulan bahwa tingkah laku mengandung 3 aspek , yaitu :

a)      Aspek tindakan ( performance atau act )

b)      Aspek sebab atau akibat nya ( a person causes a result )

c)      Aspek ekspresif

Atau dasar pandanga operasional , banyak ahli yang hanya membahas aspek yang kedua ; terlebih – lebih kalau pembahasn itu akan di pakai sebagai titik tolak pengukuran bakat .

 

                      Tingkah laku individu , yang mempunyai tiga aspek  itu adalah pengejawantahan dari pada kualitas individu yang didasari oleh bakat tertentu . Guilford yang bertolak dari analisis faktor , berusaha merumus kan faktor – faktor yang terkandung di dalam bakat itu , yang secara garis besar telah disebutkan di muka . disiniakan dikemukakan agak lebih jauh . telah disebut kan , bahwa menurut Guilford bakat itu mencakup tiga dimensi pokok , yaitu :

1)      Dimensi perseptual ,

2)      Di mensi psiko – motor ,

3)      Dimensi intelektual

 

1)      Dimensi perseptual

Dimensi perseptual meliputi kemampuan dalam mengadakan  persepsi , dan ini meliputi faktor – faktor antara lain :

  1. Kepekeaan indera
  2. Perhatian
  3. Orentasi ruang
  4. Orientasi waktu
  5. Luas nya daerah persepsi ,
  6. Kecepatan persepsi , dan sebagai nya

2)      Dimensi psiko –  motor

Dimens psiko – motor ini mencakup enam faktor , yaitu :

  1.  Faktor kekuatan ,
  2. Faktor implus ,
  3. Faktor kecepatan gerak ,
  4. Faktor ketelitian / atau ketepatan , yang terdiri atas dua macam , yaitu :

1)      Faktor kecepatan statis , yang menitik beratkan pada posisi ,

2)      Faktor kecepatan dinamis ,  yang menitikberatkan pada gerak .

  1. Faktor koordinasi ,
  2. Faktor keluwesan ( flexibility )

 

3)      Dimensi intelektual

      Dimensi inilah yang umum nya mendapat penyorotan secara luas , karena memang dimensi inilah yang mempunyai implikasi sangat luas . dimensi ini meliputi lima faktor , yaitu :

  1. Faktor ingatan , yang mencakup :

1)      Faktor ingatan mengenai subtansi ,

2)      Faktor ingatan mengenai relasi ,

3)      Faktor ingatan mengenai system ;

  1. Faktor pengenalan , yang mencakup :

1)      Pengenalan terhadap keeluruhan informasi ,

2)      Pengenalan terhadap golongan (kelas) ,

3)      Pengenalan terhadap hubungan – hubungan ,

4)      Pengenalan terhadap bentuk atau struktur ,

5)      Pengenalan terhadap kesimpulan ,

 

  1. Faktor evaluative , yang meliputi :

1)      Evaluasi mengenai identitas ,

2)      Evaluasi mengenai relasi – relasi ,

3)      Evaluasi terhadap system ,

4)      Evaluasi terhadap  penting tidak nya problem ( kepekaan terhadap problem yang di hadapi  ) .

  1. Faktor berfikir konvergen , yang meliputi :

1)      Faktor untuk menghasilkan nama – nama ,

2)      Faktor untuk mangahasilkan hubungan – hubungan ,

3)      Faktor untuk menghasilkan system system ,

4)      Faktor untuk menghasil kan tranformasi ,

5)      Faktor untuk menghasilkan implikasi – implikasi yang unik .

  1. Faktor berfikir divergen ,  yang  meliputi :

1)      Faktor untuk menghasilkan unit – unit , seperti : word fluency ideational fluency ,

2)      Faktor untuk pengalihan kelas – kelas secara spontan ,

3)      Faktor dalam kelancaran dalam menghasilkan hubungan – hubungan ,

4)      Faktor untuk menghasilkan system , seperti exspresional fluency ,

5)      Faktor untuk tranformasi divergen ,

6)      Faktor untuk menyusun bagian – bagian menjadi garis besar atau kerangka .

      Dengan sengaja pendapat Guilford ini di kemukakan dengan agak lengkap , tidak karena pendapat tersebut dianggap sebagai satu – satu nya pendapat yang benar , akan tetapi  terlebih – lebih  sebagai ilustrasi untuk untuk menunjukan batapa rumit nya kualitas manusia yang kita sebut bakat itu . pada dasar nya semua individu –  setidak  – tidak nya yang normal –  memiliki faktor – faktor tersebut . variasi bakat timbulkarena variasi dalem kombinasi , korelasi dan intensitas faktor – faktor tersebut . variasi inilah yang seharus nya kita kenal seawal  mungkin .

 

B . BAGAIMANA CARANYA KITA MENGENAL BAKAT SEEORANG ?

      Menurut sejarahnya usaha pengenalan bakat itu mula – mula terjadi pada bidang kerja (atau jabatan ) , tetapi kemudian juga dalam bidang pendidikan . bahkan dewasa ini dalam dalam bidang pendidikan lah usaha yang paling banyak dilakukan dalam praktiknya hampir semua ahli yang menysun tes untuk mengungkap bakat bertolak dari dasar pikiran  analisis faktor .pendapat GUILFORD yang telah disajikan di muka itu merupakan salah satu contoh dari pola pemikiran yang di mikian itu . apa yang di kemukkan oleh GUILFORD itu adalah hal yang ( materi ) yang ada pada individu , yang diperlukan untuk aktivitas apa saja ; jelas nya , untuk setiap aktivitas diperlukan berfungsinya faktor – faktor tersebut . pemberian nama terhadap berjenis – jenis bakat biasanya dilakukan berdasar atas dalam lapangan apa  bakat tersebut berfungsi  , seperti bakat matematika bakat bahas , bakat olahraga , sebagainya . dengan demikian , maka macam nya bakat akan angat tergantung pada konteks kebudayaan dimana seeorang individu hidup . mungkin penaman itu bersangkutan dengan bidang studi , mungkin pula dalam bidang kerja .

Sebenernya setiap bidang studi atau bidang kerja dibutuhkan berfungsinya lebih dari satu faktir saja.Bermacam-macam  faktor mungkin diperlukan berfungsinya untuk suatu lapngan studi atau lapangan  studi atau lapangan kerja tertentu. Suatu contoh misalnya bakatuntuk belajar di fakultas Teknik akan memerlukan berfungsinya faktor-faktor mengenai bilangan,ruang,berpikir abstrak ,bahasa,mekanik ,dan mungkin masih banyak lagi. Bahwa pada setiap individu sebenernya terdapat  semua faktor-faktor yang di perlukan untuk berbagai macam lapngan, hanya  dengan kombinasai,konstelasi, dan intensitas yang berbeda-beda.karena itu biasanya  yang dilakukan dalam diagnosis tentang bakat  dalah membuat urutan(ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu. Prosedur  yang biasanya ditempuh adalah:

  1. melakukan analisis jabatan (job-analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor .
  2. dari hasil analisis itu di buat pencandraan jabatan (job description) atau pencandraan lapangan studi;
  3. dari pencandraan jabatan atau pencandraan lapangan studi itu diketahui persyaratan apa yang harus dipenuhi supaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tetentu;
  4. dari persyaratan itu sebagai landasan disusun alat pengungkapnya (alat pengungkap bakat), yang biasanya berwujud tes.

 

   Dengan jalan pikiran seperti yng digambrkan di atas itulah pada umumnya tes bakat itu disusun. Sampai sekarang boleh dikata belum ada tes bakat yang cukup luas daerah pemaiknya (seperti misalnya tes intelegensi); berbagai tes bakat yang telah ada seperti misalnya FACT (Flanagan Aptitude Clasification Test) yang disusun oleh Flanagan, DAT. (Differential Aptitude Test) yang disusun oleh Bennet, M-Test (Mathematical and Technical Test) yang disusun oleh Luningprak masih sangat terbatas daerah berlakunya. Hal ini disebabkan karena tes bakat sangat terikat kepada konteks kebudayaan di mana tes itu disusun,sedangkan macam-macamnya bakat juga terikat kepada konteks kebudayaan di mana klasifikasi bakat itu dibuat.

 

   Bagi kita bangsa Indonesia kiranya sangat mendesak untuk segera diciptakannya tes bakat itu, baik keperluan pemilihan jabatan atau lapangan kerja, maupun untuk pemilihan arah studi.

 

 

PERKEMBANGAN INDIVIDU

 

PROBLEMATIK

      Kiranya tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa problem-problem yang tercakup dalam pembahasan mengenai perkembangan individu itu adalah sangat luas dan kompleks. Namun, untuk memudahkan persoalan, hal yang luas dan kompleks itu dapat juga kita sederhanakan, maka problematic yang menyangkut perkembangan individu itu dapat kita golong-golongkan menjadi tiga golongan yaitu:

(1)   apakah perkembangan itu?

(2)   Faktor-faktor apakah yang memungkinkan perkembangan itu?

(3)   Bagaimana sifat-sifat individu pada masa-masa tetentu dalam perkembangan tersebut?

 

 

      Problem yang pertama berusaha mencari jawab tenntang inti atau hakikat perkembangan, problem kedua berusaha mancari jawab mengenai persoalan tentang hal-hal yang mendasari terjdinya perkembangan, sedangkan problem ketiga berusaha membuat pencandraan (description) mengenai kehidupan individu (secara psikologis) selama masa perkembanagannya. Di dalam bab ini akan dikemukakan ketiga tersebut.

 

  1. APAKAH PERKEMBANGAN ITU?

Kalau kita teliti buku-buku yang membicarakan masalah ini, maka jawaban para ahli terhadap pertanyaan “apakah perkembangan itu” adalah bermacam-macam sekali.Akan tetapi betapapun juga berbeda-bedanya pendapat para ahli tersebut, namun semunya mengakui bahwa perkembangan itu adalah suatu perubahan; perubahan ke arah yang lebih maju, lebih dewasa. Secara tekhnis, perubahan tersebut biasanya disebut proses. Jadi pada garis besarnya para ahli sependapat, bahwaperkembangan itu adalah suatu proses. Tetapi apabila persoalan kita lanjutkan dengan mempersoalkan proses apa, maka disini kita daptkan lagi bermacam-macam jawaban, yang pada pokoknya berpangkal kepada pendirian masing-masing ahli. Pendapat atau konsepsi yang bermacam-macam itu pada pokoknya dapat kita golongkan menjadi tiga golongan, yaitu:

(1)   Konsepsi-konsepsi para ahli yang mengikuti aliran asosiasi,

(2)   Konsepsi-konsepsi para ahli yang mengikuti aliran Gestalt dan Neo-Gestalt, dan

(3)   Konsepsi-konsepsi para ahli yang mengikuti aliran sosiologisme.

 

  1. Aliran Asosiasi

Para ahli yang mengikuti aliran asosiasi berpendapat, bahwa pada hkikatny perkembangan itu adalah proses asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran ini yang primer adalah bagian-bagian, bagian-bagian ada lebih dulu, sedangkan keseluruhan ada lebih kemudin. Bagian-bagian itu terikat satu sama lain menjadi suatu keseluruhan oleh asosiasi. Jadi misalnya bagaimana terbentuknya pengertian lonceng pada anak-anak, mungkin akan diterangkan demikian: mungkin anak-anak itu mendengar suara lonceng lalu memperoleh kesn pendengaran bagaimana tentang lonceng; selanjutnya mungkin anak-anak itu melihat lonceng tersebut lalu mendapat kesan penglihatan (mengenai warna dan bentuk); selanjutnya mungkin anak-anak itu mempunyai kesan rabaan jika sekirnya dia mempunyai kesempatan untuk meraba lonceng tersebut. Jadi gambaran mengenai lonceng itu makin lama makin lengkap; kesan-kesan secara asosiatif berhubungan satu sama lain.

      Salah seorang tokoh aliran asosiasi ini yang terkenal adalah John Locke.Locke berpendapat bahwa pada permulaannya jiwa anak itu adalah bersih semisal selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman atau empiri. Dalam hal ini Locke membedakan adanya dua macam pengalaman, yaitu:

  1. Pengalaman luar, yaitu pengalaman yang diperoleh dengan melalui panca indera, yang menimbulkan sensatins, dan
  2. Pengalaman dalam, yaitu pengalaman mengenai keadaan dan kegiatan batin sendiri, yang menimbulkan reflexions

 

Kedua macam kesan itu, yaitu sensation dan reflexions merupakan pengertian yang sederhana (simple ideas), yang kemudian dengan asosiasi membentuk pengertian yang kompleks (komplex ideas).

 

Aliran asosiasi tersebut-setidak-tidaknya dalam bentuknya seperti yang dikemukakan di atas itu-kini tinggal ada dalam sejarah ; akan tetapi pengaruh nya dalam lapangan pendidikan dan pengajaran belum lama ditinggal kan orang . metode mengajar membaca dan menulis secara sentetis , belum lama kita tinggalkan , atau malah mungkin masih ada yang mengikuti ; metode – metode tersebut dasar psikoligisnya adalah psikologis asosiasi .

 

  1. 2.            Psikologi Gestalt

         Pengikut-pengikut aliran psikologi gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi yang di kemukakan oleh para ahli yang mengikuti aliran para asosiasi .bagi para ahli aliran gestalt , perkembangaan itu adalah proses difrensiansi . dalam proses difrensiansi itu yang primer adalah keseluruhan , sedangkan bagian-bagian adalah sekunder ; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keselurahan dalam hubunga fungsional dengan bagian-bagian yang lain ; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya kalau kita ketemu dengan seseorang misalnya , dari kejauhan yang kita saksikkan terlebih dahulu bukan lah baju nya yang baru atau pulpen nya yang bagus , atau dahi nya yang terluka , melainkan justru teman kita itu sebagai keselurahan sebagai gestalt ; baru kemudian menyusul kita saksikan adanya hal- hal nya yang khusus tertentu seperti misalnya baju yang baru atau yang bagus , dahinya yang terluka dan ebagainya .           

         Seorang anak kecil , yang dirumah nya ada seekor kucing yang dinamain “melati” , mula – mula akan menyebut semua kucing yang dijumpain nya – bahkan mungkin juga harimau di kebun binatang – dengan nama “melati” , baru kemudian dya dapat mengetahui bahwa tidak semua kucing itu namanya “melati” ; ada kucing yang mempunyai nama kucing yang lain seperti ; “menur “ , “ mawar “, “ pahing” , dan sebagainya . proses ini adalah diferensiasi . demikian lah misal nya si jatmiko (anak penulis yang berumur dua tahun ) menyebut semua mobil dengan nama “ memo” (bemo) ; baru kemudian dya mengetahui bahwa mobil ada nama nya bemo , jeep , truck , sedan , dan sebagai nya .

         Juga pengenalan anak terhadap dunia luar merupakan proses diferensiasi. Mula – mula anak merasa satu terhadap dengan dunia sekitarnya , kemudian baru ada diferensiasi : dia merasa (mengetahui) dirinya sebagai Sesuatu yang berbeda dari dunia sekitar nya . lebih jauh dia dapat membedakan bahwa dunia sekitarnya itu terdiri dari manusia dan bukan manusia , dan selanjutnya manusia-manusia itu berbagai-bagai pula , ada ibu dan bukan ibu ; dan yang bukan ibu itu yang ada namanya ayah , kakak , nenek , paman , mbok nyem , dan sebagainya . selanjutnya aliran Neo-gestalt , yang bentuk nyatanya salah satu adalah aliran psikologi medan ( yang dirintis oleh kurt lewin ) terhadap proses diferensiasi itu masih menambahkan lagi proses stratifikasi .struktur pribadi digambarkan sebagai terdiri dari lapisan-lapisan (starata) ; lapisan-lapisan itu makin lama makin bertambah . anak kecil kehidupan psikisnya mula-mula hanya terdiri dari satu lapis ; apa yang dinampak kan keluar itu pulalah adanya di dalam ; tidak ada hal yang disembunyikan . karena itu lah anak keciltidak akan berdusta dengan sengaja , jika sekiranya dia berdusta , maka itulah adalah dusta khayal . makin bertambah dewasa dia . maka lapisan-lapisan makin terbentuk dan bertambah . demikianlah pada kita orang dewasa , isi batin kita dapat kita gambarkan sebagai berlapis-lapis : lapisa paling luar paling gampang terpengaruh dari luar dan dinyatakan keluar, lapisa paling dalam adalah hal yang paling bersifat peribadi , mungkin di pandang hal yang paling bersifat top secret , hal yang tidak akan dinyatakan kepada setiap orang , melainkan hanya dinyatakan kepada seseorang (atau orang-orang ) tertentu ; juga hal ini merupakan hal yang paling dipertahankan dan paling sukar untuk dipengaruhi dari luar .

         Banyak ahli psikologi yang mempertentangkan aliran asosiasi dan aliran psikologi gestalt itu sebagai psikologi lama tertantang dengan psikologi dengan modern pada waktu ini konsepsi pikologi gestalt dan neo getalt itu diterima oleh sebagian besar para ahli , walapun dengan variasi yang sedikit berbeda – beda anatar yang satu dengan yang lain.

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s